Jumaidin (26), pemuda asal Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah, yang mengalami amnesia selama delapan tahun akibat gempa dan tsunami Palu 2018, berhasil mengingat jalan pulang ke rumah keluarganya berkat video di media sosial TikTok dan tiba di Desa Bongka Makmur pada awal Oktober 2026.
Keluarga di Desa Bongka Makmur, Kecamatan Tojo, sebelumnya menyangka Jumaidin telah meninggal dunia karena tidak ada kabar setelah musibah. Jumaidin tiba-tiba datang menemui keluarganya pada awal Oktober 2026.
Kakak Jumaidin, Mahania (33), menyatakan keluarga mengenalinya dari tanda pada gigi dan tangan. "Pertama datang kami tandai dari giginya. Orang-orang memang lihat dia itu, memang itu adiknya kami. Karena kan banyak tanda kalau dia ini memang torang pe adik, begitu. Terus, ada tandanya di tangannya," ujar Mahania kepada media, Jumat, 23 Oktober 2026.
Pada 28 September 2018 sore hari, saat gempa dan tsunami menerjang Kota Palu, Jumaidin yang baru lulus sekolah sedang bekerja di perusahaan pencetakan galon. Ia tertimpa reruntuhan bangunan hingga mengalami luka parah di bagian kepala.
Dalam kondisi kritis dan tanpa tim medis di lokasi, warga mengevakuasi Jumaidin ke Kabupaten Morowali. Ia sempat tidak sadarkan diri selama satu bulan.
"Dia luka parahnya waktu itu di kepala, makanya dia kayak suka lupa-lupa begitu. Masih belum terlalu sempurna ingatannya tentang masa lalu. Pas sadar di Morowali, dia tidak tahu namanya siapa dan alamatnya di mana," jelas Mahania.
Karena amnesia total, warga Morowali yang merawatnya memasukkan Jumaidin ke dalam Kartu Keluarga mereka serta membantu pembuatan Kartu Tanda Penduduk baru agar ia dapat berobat dan bekerja.
Setelah lima tahun menetap di Morowali, Jumaidin kembali ke Kota Palu pada 2023 untuk bekerja di industri pengolahan kulit. Di tempat kerja itu, ingatannya perlahan membaik.
Suatu hari saat melihat konten video TikTok yang menampilkan Jembatan Bongka, jembatan terpanjang di Sulawesi Tengah di daerah asalnya, Jumaidin merasa familiar. "Dia lihat di TikTok ada foto Jembatan Bongka. Dia bilang 'Oh Bongka, kayaknya saya familiar sekali dengan nama ini'," kata Mahania menirukan ucapan adiknya.
Jumaidin kemudian berusaha memutar memorinya hingga mengalami sakit kepala hebat. Rekan kerjanya yang bertugas di PLN membantu menuntun ingatannya hingga ia dapat menyebutkan nama almarhum ayahnya.
Berbekal ingatan nama ayah dan lokasi Jembatan Bongka, Jumaidin mencari jalan pulang. Ia menumpang kendaraan rekannya hingga wilayah Poso, lalu melanjutkan perjalanan menggunakan ojek menuju Desa Bongka Makmur.
"Pas masuk desa dia naik ojek. Karena nama bapak saya ini agak familiar di sini, orang-orang langsung tahu dan mengantarnya ke rumah," tutur Mahania.
Kepulangan Jumaidin membuat keluarga besar terkejut sekaligus bahagia. Keluarga sebelumnya telah menggelar acara tahlilan 40 hari dan menyedekahkan baju-baju peninggalannya karena menduga ia telah wafat.
Momen itu diwarnai duka. Orang pertama yang dicari Jumaidin saat tiba di rumah adalah sang ayah, yang meninggal dunia tiga tahun lalu akibat sakit-sakitan. "Pertama yang dia cari itu bapaknya kami, cuma kan bapaknya sudah meninggal tiga tahun yang lalu," pungkas Mahania.