Internasional

Aksi Buruh Pelabuhan 22 Negara Tolak Pengiriman Senjata ke Zona Perang

Demonstran dari para pekerja pelabuhan membakar ban sebagai protes terhadap pemerintah di Italia. - dok Tangkapan layar Youtube
Demonstran dari para pekerja pelabuhan membakar ban sebagai protes terhadap pemerintah di Italia. - dok Tangkapan layar Youtube

Aksi buruh pelabuhan digelar pada Jumat (30/10/2026) untuk menolak penggunaan fasilitas perdagangan sipil sebagai jalur pengiriman senjata ke kawasan perang, termasuk Israel. Reuters melaporkan, berdasarkan cakupan mobilisasi yang diumumkan penyelenggara, gerakan ini menjangkau 113 pelabuhan di 22 negara dengan dukungan lebih dari 25 serikat pekerja di Eropa, Asia, Afrika, Amerika, dan Australia.

Tidak semua pelabuhan yang tercakup berhenti beroperasi. Bentuk aksinya berbeda-beda: pemogokan 24 jam, penghentian pekerjaan selama beberapa jam, hingga demonstrasi solidaritas.

Para pekerja menolak pelabuhan dipakai untuk mengangkut senjata, amunisi, dan peralatan militer menuju kawasan konflik. Mereka juga menuntut kenaikan upah, perbaikan kondisi kerja, perlindungan keselamatan pelaut, serta ketersediaan tenaga medis bagi awak kapal yang melintasi wilayah berbahaya.

Aksi Buruh Pelabuhan di Piraeus, Genoa, dan Kota Lain

Di Pelabuhan Piraeus, Yunani, sekitar 3.000 buruh pelabuhan dan pelaut ikut turun. Kegiatan bongkar muat terganggu, dan layanan feri menuju pulau-pulau Yunani terhenti. Associated Press mencatat penghentian feri itu juga berkaitan dengan pemogokan tersendiri oleh serikat pelaut yang menuntut perbaikan upah, keselamatan, dan kondisi kerja.

Apostolos Kypraios, pemimpin serikat insinyur pelayaran niaga Yunani, menyatakan penolakan keras terhadap keterlibatan pekerja dalam rantai logistik perang. "Kami tidak akan bekerja untuk perang mereka, dan kami tidak akan menjadi umpan meriam mereka," kata Kypraios kepada Reuters saat demonstrasi di Piraeus.

Menurut dia, ancaman terhadap pelaut tidak selesai begitu kapal keluar dari wilayah berbahaya. Keluarga awak masih menanggung kecemasan panjang soal kemungkinan orang yang mereka cintai tidak pulang.

Aksi serupa menyentuh Valencia dan Algeciras di Spanyol, Le Havre di Prancis, Genoa di Italia, Tangier Med di Maroko, dan Nhava Sheva di India. Di Istanbul, Turki, demonstran berkumpul di sekitar Pelabuhan Haydarpasa. Federasi CGT Ports et Docks menyerukan mogok sehari di Le Havre, Marseille, Dunkirk, dan Rouen.

Reuters dalam laporan terpisah menyebut sekitar 15.000 buruh pelabuhan, mahasiswa, dan demonstran lain memasuki kawasan Pelabuhan Genoa. Serikat Unione Sindacale di Base (USB) menyerukan pemogokan umum 24 jam, dengan demonstrasi di lebih dari 40 kota Italia. Tuntutannya mencakup kenaikan upah, peningkatan pelayanan publik, dan penolakan terhadap naiknya biaya hidup serta pengeluaran militer.

Pemerintah Italia sebelumnya mengeluarkan perintah yang membatasi pemogokan di sejumlah sektor transportasi. Di beberapa kota, demonstrasi diwarnai ketegangan antara peserta dan aparat keamanan.

Dukungan Federasi Pekerja Transportasi

Federasi Pekerja Transportasi Internasional atau International Transport Workers' Federation (ITF) menyatakan dukungan pada 28 Oktober 2026. Sekretaris Jenderal ITF Stephen Cotton menegaskan pentingnya penghormatan terhadap hak pekerja dan penghentian pengiriman senjata yang berpotensi dipakai melanggar hukum humaniter internasional.

Dalam pernyataan resminya, ITF meminta pemerintah menghentikan transfer persenjataan yang memperburuk pelanggaran hukum humaniter dan menjamin perlindungan warga sipil. Organisasi itu juga meminta hak pekerja transportasi menolak menangani kargo militer dihormati tanpa tindakan pembalasan. Tuntutan lain meliputi gencatan senjata permanen, akses bantuan kemanusiaan ke Gaza, penghentian pendudukan dan permukiman ilegal, serta dukungan bagi pengakuan negara Palestina.

Markos Bekris, pemimpin serikat pekerja pelabuhan ENEDEP di Piraeus, menjelaskan kepada Al Jazeera bahwa senjata hanya bisa sampai ke tujuan jika ada infrastruktur transportasi dan pekerja yang menanganinya. Dukungan juga datang dari serikat di Jerman, Turki, Australia, Denmark, dan Amerika Serikat.

Jalur Laut Teluk Kian Berbahaya

Aksi berlangsung saat kapal dagang menghadapi ancaman serius akibat perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang dimulai pada 28 Februari 2026. Dalam laporan 23 Oktober, Reuters mengutip Noam Raydan, peneliti senior Washington Institute for Near East Policy, yang mencatat 28 serangan terkonfirmasi maupun yang dilaporkan terhadap kapal di Selat Hormuz dan perairan sekitarnya sepanjang Oktober. Angka itu tertinggi dalam catatan pemantauan lembaga tersebut.

Organisasi Maritim Internasional atau International Maritime Organization (IMO) mencatat 122 insiden maritim terkonfirmasi di Selat Hormuz dan kawasan Timur Tengah yang lebih luas hingga 30 Oktober 2026, dengan 24 pelaut tewas.

Serikat Water Transport Workers Federation of India (WTWFI) menyampaikan kepada Reuters bahwa sekitar 15 pelaut India meninggal akibat perang Iran. Angka itu klaim organisasi pekerja, bukan data resmi pemerintah India. Serikat pelaut Yunani PENEN menyatakan perang di Teluk dan Laut Hitam telah menewaskan dan melukai pekerja maritim, lalu mendesak perlindungan lebih baik, termasuk akses tenaga medis.

Perkiraan Dampak terhadap Kargo

Kelompok pekerja pelabuhan dan aktivis No Harbour for Genocide memperkirakan aksi ini dapat menghambat sekitar 52.000 peti kemas bernilai 2,8 miliar dolar AS. Reuters menyatakan belum dapat memverifikasi perkiraan itu secara independen. Angka tersebut merupakan nilai kargo yang berpotensi terganggu menurut kelompok aktivis, bukan kerugian yang sudah terjadi.

Associated Press melaporkan dampak pemogokan terhadap perdagangan global kemungkinan terbatas. Marcus Baker, pimpinan bidang maritim, kargo, dan logistik di perusahaan penasihat risiko Marsh, menilai penghentian 24 jam tidak cukup untuk mengguncang perdagangan dunia. Keterlambatan tetap bisa mengganggu barang mudah rusak dan kargo yang menuntut ketepatan waktu.

Judah Levine, kepala riset platform pengiriman Freightos, mengingatkan aksi ini dapat menambah kemacetan di pelabuhan yang sudah mengalami antrean kapal, termasuk Genoa.

Dari Hari Aksi Februari ke Deklarasi Istanbul

Kerja sama lintas negara ini berakar sejak 2025. Pada 6 Februari 2026, serikat buruh menggelar hari aksi internasional di sekitar 20 pelabuhan di tujuh negara. Konsolidasi berlanjut lewat pertemuan di Istanbul pada 18-19 Mei 2026, yang melibatkan serikat dari lebih dari 35 pelabuhan di Eropa dan Mediterania, menurut dokumen Kantor Regional Eropa World Federation of Trade Unions.

Pertemuan itu menghasilkan Deklarasi Istanbul, yang menolak penggunaan pelabuhan untuk mengangkut senjata, amunisi, dan perlengkapan militer ke wilayah perang. Deklarasi tersebut juga menyerukan penghentian serangan terhadap rakyat Palestina, pembukaan jalur bantuan kemanusiaan, dan pengakuan negara Palestina merdeka berdasarkan perbatasan 1967 dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota. Di sisi pekerja, dokumen itu menekankan kenaikan upah, keselamatan kerja, jaminan pekerjaan, dan perlindungan dari dampak otomatisasi pelabuhan.