Ekonomi

Saham BBCA Diborong Asing Rp 286,1 Miliar, Valbury Pasang Target Rp 9.480

Gedung BCA
Gedung BCA

Saham BBCA milik PT Bank Central Asia Tbk menjadi saham yang paling banyak dibeli investor asing di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (15/10/2026), dengan nilai beli bersih mencapai Rp 286,1 miliar. Aksi borong tersebut berlanjut di tengah tekanan harga saham BCA sepanjang tahun berjalan, sementara KB Valbury Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp 9.480 per saham.

Berdasarkan data Stockbit Sekuritas, pembelian bersih saham BBCA terjadi di pasar reguler. Meski mendapat aliran dana asing terbesar di antara saham-saham yang diperdagangkan hari itu, BBCA tetap ditutup melemah 0,8% ke level Rp 6.075.

Pergerakan tersebut memperlihatkan bahwa minat beli investor asing belum otomatis mendorong kenaikan harga dalam satu sesi perdagangan. Pelaku pasar masih perlu mencermati keseimbangan antara permintaan saham, kondisi pasar secara keseluruhan, dan prospek kinerja emiten.

Saham BBCA Masih Tertekan Sepanjang 2026

Secara mingguan, saham BBCA mencatatkan kenaikan 1,2%. Namun, dalam periode satu bulan, harganya terkoreksi 6,5%, sedangkan secara year to date (YTD) atau sejak awal tahun, saham bank swasta terbesar di Indonesia tersebut telah turun 24,7%.

Penurunan YTD itu menjadi konteks penting untuk membaca aksi beli asing. Arus dana masuk dalam satu hari menunjukkan adanya permintaan terhadap saham BBCA, tetapi belum cukup untuk memastikan bahwa tren penurunan harga telah berakhir.

Selain BBCA, investor asing juga membukukan beli bersih pada saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebesar Rp 78,3 miliar. Sementara itu, saham PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) mencatatkan jual bersih asing terbesar, yakni Rp 33,8 miliar.

Asing Catat Net Buy Rp 569,3 Miliar di BEI

Secara keseluruhan, investor asing membukukan transaksi beli bersih sebesar Rp 569,3 miliar di seluruh pasar BEI pada Kamis (15/10/2026). Meski terjadi arus dana masuk pada hari tersebut, secara kumulatif investor asing masih mencatatkan jual bersih Rp 84,8 triliun sepanjang tahun berjalan berdasarkan data BEI.

Perbedaan antara transaksi harian dan akumulasi tahunan ini menunjukkan bahwa satu hari pembelian belum menghapus tekanan jual yang terbentuk sebelumnya. Karena itu, arah pergerakan dana asing dalam beberapa sesi berikutnya dapat menjadi salah satu indikator yang diperhatikan investor saat menilai prospek saham perbankan.

Valbury Pertahankan Buy, Target BBCA Rp 9.480

Di tengah pelemahan harga saham BBCA, KB Valbury Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy atau beli dengan target harga Rp 9.480 per saham. Target tersebut lebih tinggi daripada harga penutupan BBCA pada 15 Oktober 2026 yang berada di level Rp 6.075.

Jika dibandingkan dengan harga penutupan tersebut, target Valbury mengindikasikan potensi kenaikan sekitar 56,0%. Angka ini merupakan selisih matematis antara harga pasar dan target analis, bukan jaminan bahwa harga saham akan mencapai level tersebut.

Valbury mendasarkan target harganya pada estimasi rasio price to book value (P/B) sebesar 3,8 kali untuk proyeksi 2026. Sementara itu, BBCA saat ini diperdagangkan pada estimasi P/B 2026 sebesar 2,6 kali.

Rasio P/B membandingkan harga saham dengan nilai buku perusahaan per saham. Dalam penilaian Valbury, selisih antara valuasi saat ini dan valuasi yang menjadi dasar target harga membuka peluang re-rating, yakni penilaian ulang pasar terhadap valuasi saham, apabila katalis positif mulai terealisasi.

Pertumbuhan Kredit dan NIM Jadi Katalis BBCA

Salah satu faktor yang dapat mendukung prospek BBCA adalah pertumbuhan kredit dan imbal hasil kredit yang lebih tinggi daripada perkiraan. Kondisi tersebut berpotensi memperkuat net interest margin (NIM), yaitu selisih antara pendapatan bunga yang diperoleh bank dan biaya bunga yang dibayarkan, dibandingkan dengan aset produktifnya.

NIM menjadi indikator penting bagi bank karena berkaitan dengan kemampuan menghasilkan pendapatan bunga dari kegiatan intermediasi. Jika pertumbuhan kredit dan imbal hasilnya tidak sesuai harapan, ruang untuk memperbaiki pendapatan bunga bersih juga dapat menjadi lebih terbatas.

Valbury juga menyoroti peluang cost of credit (CoC) yang lebih rendah daripada estimasi. CoC menggambarkan biaya risiko kredit yang ditanggung bank, termasuk beban pencadangan untuk mengantisipasi potensi kerugian akibat kredit bermasalah.

Biaya kredit yang lebih rendah berpotensi mendukung profitabilitas apabila kebutuhan pembentukan pencadangan lebih awal tetap terbatas dan kualitas aset terus membaik. Namun, peluang tersebut tetap bergantung pada perkembangan kualitas kredit dan kebutuhan pencadangan aktual.

Biaya Pendanaan dan Rupiah Jadi Risiko

Di sisi lain, KB Valbury Sekuritas mengingatkan bahwa pertumbuhan kredit dan penyesuaian imbal hasil kredit yang lebih rendah dari perkiraan dapat menekan prospek BBCA. Risiko lainnya mencakup biaya pendanaan dan CoC yang lebih tinggi daripada estimasi, serta penurunan NIM yang lebih dalam dari perkiraan.

Biaya pendanaan perlu dicermati karena kenaikan biaya dana dapat mempersempit selisih antara pendapatan bunga dan beban bunga bank. Apabila tekanan tersebut berlangsung bersamaan dengan pelemahan NIM, kemampuan bank menjaga pertumbuhan pendapatan dapat ikut terpengaruh.

Valbury turut memasukkan potensi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sebagai salah satu risiko bagi proyeksi BBCA. Dengan demikian, target Rp 9.480 tetap bergantung pada realisasi katalis positif dan kemampuan BCA menghadapi risiko yang telah diidentifikasi analis.