Internasional

Netanyahu Sebut Kerusuhan di Prancis sebagai Invasi Ekstremis Islam

PM Zionis Israel, Benjamin Netanyahu
PM Zionis Israel, Benjamin Netanyahu

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut Prancis telah dilanda invasi ekstremis Islam menyusul unjuk rasa besar-besaran yang berujung kerusuhan di sejumlah kota beberapa hari terakhir. Pernyataan itu disampaikan untuk mengkritik para pemimpin Prancis yang dinilai gagal mengantisipasi kerusuhan di Prancis.

Unjuk rasa nasional dipicu lonjakan harga dan kenaikan biaya hidup. Aksi itu berujung kerusuhan yang diwarnai pembakaran dan penjarahan massal, tercatat sebagai salah satu kekerasan jalanan terburuk di Prancis dalam beberapa tahun terakhir. Hampir 2.400 orang ditangkap dan sekitar 1.000 personel kepolisian mengalami luka-luka.

Dalam wawancara dengan televisi berita berbahasa Prancis i24News yang dilansir AFP, Rabu, 21 Oktober 2026, Pemimpin Negara Zionis Israel tersebut menyatakan para pemimpin Prancis tidak bersiap tepat waktu dan justru menyerah.

“Mereka tidak bersiap tepat waktu, mereka justru menyerah begitu saja. Mereka tunduk pada invasi ekstremis Islam,” kata Netanyahu melalui penerjemah.

Saat ditanya saran untuk Prancis, Netanyahu menjawab agar melawan balik dan tidak menerapkan kebijakan kompromi terhadap para ekstremis. Ia menambahkan pernah memberikan peringatan khusus kepada Presiden Prancis Emmanuel Macron usai serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023.

“Jika kita tidak melenyapkan mereka di sini, mereka akan muncul di Prancis—dan itulah yang kini benar-benar terjadi,” ucap Netanyahu tanpa menyertakan bukti untuk mendukung klaimnya.

Fakta di lapangan menunjukkan masyarakat Prancis yang turun ke jalan di berbagai kota besar, termasuk Paris, berasal dari berbagai latar belakang. Klaim Netanyahu senada dengan narasi yang kerap dilontarkan politisi dan komentator sayap kanan di dunia Barat yang sering menyebut wilayah Eropa berada di bawah hukum Islam akibat imigrasi, pandangan yang memicu tuduhan Islamofobia.

Prancis merupakan salah satu negara Eropa yang mengakui negara Palestina tahun lalu, langkah yang memicu kemarahan Israel. Komentar serupa pernah dilontarkan Netanyahu pada Agustus lalu ketika mengkritik sikap Inggris terhadap Israel dengan menyebutnya Republik Islam, yang langsung mendapat kecaman dari otoritas London sebagai sama sekali tidak dapat diterima.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga memberikan komentar terkait kerusuhan di Prancis. Ia menyalahkan imigrasi sebagai pemicu dan memperingatkan Paris akan menjadi kota Muslim jika Presiden Macron tidak menutup perbatasan.

“Sudah sejak lama saya katakan kepadanya, Anda membuat kesalahan besar di Prancis. Anda membiarkan siapa pun dari seluruh dunia masuk. Seluruh dunia berdatangan masuk. Dan, seperti yang Anda tahu, Paris akan segera menjadi kota Muslim. Saya mengatakan kepada Emmanuel, Anda harus menutup perbatasan Anda,” ujar Trump.