Ekonomi

Menkeu Suahasil Waspadai APBN akibat Harga Minyak Dunia US$ 114

Menteri Keuangan Suahasil Nazara
Menteri Keuangan Suahasil Nazara

Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyatakan pemerintah meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) setelah harga minyak dunia sempat menembus US$114 per barel. Pernyataan itu disampaikan seusai Rapat Terbatas di Istana Negara, Jakarta, Selasa (3/11/2026). Kenaikan tersebut turut menekan pasar keuangan, antara lain tecermin dari naiknya imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN).

Suahasil menjelaskan, harga minyak sempat berada di level US$113 hingga US$114 per barel. Dalam beberapa hari terakhir harga itu memang agak turun, tetapi pemerintah tetap harus bersiaga.

"Ini terlihat bahwa harga minyak meningkat. Meskipun beberapa hari ini agak turun, pernah mencapai US$113 bahkan US$114 per barel, dan ini mengharuskan kita bersiap siaga untuk APBN-nya," jelas Suahasil.

Harga minyak mentah lazim menjadi salah satu asumsi dasar ekonomi makro dalam penyusunan APBN, yakni rencana keuangan tahunan pemerintah yang memuat penerimaan dan belanja negara. Karena itulah pergerakannya dipantau ketat oleh otoritas fiskal.

Selain komoditas energi, Suahasil menyinggung pergerakan di pasar surat utang. Imbal hasil atau yield adalah tingkat keuntungan yang diperoleh investor dari SBN, dan angkanya kini mulai bergerak naik. Menurut Suahasil, penyebabnya adalah faktor dari luar negeri.

"Kami melihat di pasar SBN, suku bunga atau yield SBN juga mulai meningkat. Ini karena efek dari luar negeri, dari kondisi dunia," ujar Suahasil.

Suahasil juga melaporkan perkembangan arus modal asing (capital inflow), yakni masuknya dana investor asing ke pasar keuangan suatu negara. Kondisi di pasar saham Indonesia disebutnya berbeda. Namun, aliran dana asing ke Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan SBN masih cukup tinggi.

Data arus masuk itu, kata Suahasil, telah dilaporkan langsung kepada Presiden dalam rapat terbatas.

"Tadi kami laporkan kepada Bapak Presiden bahwa inflow sampai saat ini masih sekitar Rp126 triliun sepanjang tahun, dari Januari sampai akhir Oktober kemarin, dan ini adalah inflow yang baik," tegas Suahasil.